nasional

Masjid Pathok Negoro, Mengenal Pesona Lima Masjid Bersejarah di Jogja

Rabu, 15 Maret 2023 | 08:45 WIB

[ad_1]



Harga tiket: Gratis, Jam kerja: 24 jam, Alamat: Jl. Plosokouning Raya No.99, Ploso Kooning IV, Minomartani, Kek. Ngalik, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta; Map: Pemeriksaan lokasi

Masjid Patok Negoro bukan hanya tempat ibadah, tapi juga kartu kunjungan kota Jokya. Masjid ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan memiliki sejarah yang panjang. Meski bukan objek wisata, banyak pengunjung yang datang ke sini setiap hari.


Tujuan utamanya memang ibadah, tapi ada juga yang ingin belajar lebih dalam tentang sejarah Yogyakarta. Selain itu, banyak yang tertarik dengan arsitektur bangunan yang memiliki makna filosofis. Masjid ini sangat tua, ratusan tahun, lebih dari 300 tahun tepatnya.


Meski begitu, kondisinya masih bagus dan terlihat sangat terawat. Sejarah masjid ini tidak lepas dari Kyai Muhammad Fakih yang juga guru dari Sri Sultan Hamengku Buwono I. Ia mengusulkan agar menunjuk Patoka Negoro, yang berarti orang yang mengajarkan agama di setiap daerah.



Daya Tarik Masjid Patok Negoro


-
Kredit Gambar: Google Maps Abi Sukarna

Sebelumnya perlu diketahui bahwa Masjid Patok Negoro bukan hanya satu masjid. Artinya ada 5 masjid, dan masing-masing berada di wilayah yang berbeda. Kesemua masjid tersebut menjadi daya tarik tersendiri, baik dari segi sejarah maupun keunikan desain bangunannya.


1. Masjid An-Nur Mlangi


Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Selain itu, kelima masjid ini merupakan satu kesatuan yang menjadi ciri khas Jogja. Setiap masjid dibangun di atas mata angin, hanya satu masjid yang dikecualikan, yaitu di tengah dan merupakan masjid utama.


Contohnya adalah masjid An-Nur Mlangi yang menempati posisi di sebelah barat mata angin. Lebih tepatnya, masjid ini terletak di barat laut Jokji atau Pantai Selatan. Letaknya yang strategis membuat tidak mudah untuk menemukannya, apalagi dekat dengan pusat kota. Sebagai informasi tambahan, masjid ini dibangun pada tahun 1758 oleh Kyai Nur Iman.


2. Masjid Nurul-Khuda Dongkelan


Berikutnya adalah Masjid Nurul-Khuda Dongkelan yang merupakan salah satu dari lima masjid Patok Negoro lainnya yang menempati bagian selatan. Masjid ini lebih muda dari masjid sebelumnya yang dibangun pada tahun 1775. Sejarah panjang yang kurang baik mewarnai masjid yang pernah dibakar tentara Belanda pada masa penjajahan ini.


Masjid ini dibangun oleh Kyai Sihabudin dan luasnya 1000 meter persegi. Pada masa pembakaran oleh tentara Belanda pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro, masjid ini kemudian dipugar pada abad ke-20, tidak seperti aslinya, namun rekonstruksinya tidak menghilangkan bangunan utama dan ciri khasnya.



3. Masjid Ad Darodjat Babadan


Masjid ketiga Patok Negoro menempati bagian timur, namanya masjid Ad Darojat Babadan. Struktur aslinya dibangun pada tahun 1774 dan digusur oleh tentara Jepang pada tahun 1943. Setelah kemerdekaan Indonesia, masjid ini dibangun kembali sesuai bentuk dan arsitekturnya yang khas.


Keunikan dari masjid ini adalah memiliki arsitektur bangunan Jawa dimana atapnya berbentuk limas. Sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu, hanya sedikit yang dibangun dari tembok untuk memperkuat posisinya. Keistimewaan lain terlihat pada kolam yang mengelilingi masjid, fungsinya sebagai tempat wudhu umat yang akan memasuki masjid.


4. Masjid Sultoni Plosokuning


Masjid Sultoni Plosokuning merupakan masjid selanjutnya yang merupakan bagian dari Masjid Patok Negoro. Menempati bagian utara, masjid ini dibangun oleh Kyai Mursodo pada tahun 1724. Seperti masjid sebelumnya, kali ini juga dilengkapi dengan bangunan berbentuk piramida, sesuai dengan rumah adat Jawa.


Namun, ada perbedaan yang mencolok, yakni pada bagian atapnya terdapat gada yang bentuknya mirip dengan Alif. Seperti masjid pada umumnya, mengunjungi tempat ibadah ini juga mudah karena lokasinya yang strategis. Masjid ini pernah dipugar karena keadaannya yang bobrok saat itu, namun tidak pernah mengubah bangunan utamanya.


5. Masjid Takwa Wonokromo


Terakhir dan sekaligus masjid utama Patok Negoro adalah Masjid Takwa Wonokromo. Masjid ini dibangun lebih dulu dan juga yang tertua. Kyai Mohammad Fakih, beliaulah yang membangun masjid ini di atas lahan luas pemberian Sri Sultan Hamengku Buwono I.



Sebagai masjid utama, ia berada di tengah-tengah masjid lainnya. Jika masjid lain dibangun menurut arah angin yang berbeda, maka masjid ini tidak. Posisinya di tengah tidak menunjukkan arah mata angin. Namun tetap memiliki keunikan tersendiri, yaitu dibangun selaras dengan sumbu simetri antara Gunung Merapi dan Laut Selatan.

Halaman:

Tags

Terkini