nasional

Haru! Puluhan Guru PAUD di Wagir Menangis Saat Melepas Bunda Siti Cholimah: "Beliau Telah Menjadi Ibu Kami"

Senin, 25 Mei 2026 | 22:44 WIB
Haru! Puluhan guru PAUD di Wagir menangis saat melepas Bunda Siti Cholimah, penilik HIMPAUDI. (Dwi)

INDEXINDONESIA.COM, MALANG — Senyum. Tangis. Pelukan. Doa. Itulah yang mewarnai pagi itu di Balai RW 05 PAUD KB Bougenville, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Puluhan guru PAUD se-Kecamatan Wagir berkumpul bukan untuk acara biasa. Mereka datang untuk melepas sosok yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan mereka dalam mendidik anak-anak usia dini.

Bunda Siti Cholimah, S.Pd., M.M., penilik HIMPAUDI Kecamatan Wagir, resmi mengakhiri masa tugasnya. Dan perpisahan itu, bagi mereka, terasa seperti kehilangan seorang ibu.

Acara yang digelar Senin (25/5/2026) pagi itu berlangsung penuh kehangatan, kekeluargaan, tapi juga tak lepas dari isak tangis yang pecah di sana-sini. Sejak awal prosesi, suasana sudah terasa berbeda. Para guru yang datang saling berpelukan, seolah sudah merasakan bahwa hari itu akan menjadi hari yang emosional.

"Beliau Telah Menjadi Ibu Kami"

Ketua HIMPAUDI Kecamatan Wagir, Bunda Lilik Asmaningtias, S.T., berdiri di podium. Ia memegang mikrofon dengan tangan sedikit gemetar.

"Bunda Siti... saya tidak tahu harus mulai dari mana," ucapnya, suaranya parau.

Ia menarik napas panjang. "Beliau bukan hanya seorang penilik. Beliau telah menjadi ibu bagi kami semua. Setiap kali kami ragu, beliau ada. Setiap kali kami lelah, beliau menyemangati. Setiap kali kami salah, beliau membimbing dengan sabar."

Mata Bunda Lilik mulai berkaca-kaca.

"Kami tidak akan pernah melupakan dedikasi beliau. Tidak akan pernah."

Seorang guru di barisan depan mulai menangis. Yang lain ikut. Suasana ruangan yang tadinya hangat berubah menjadi haru yang mendalam.

Pesona Bunda Siti: Dekat di Hati, Dekat di Rasa

Kepala KB Bougenville, Bunda Elly Zarwati, yang juga turut hadir, mengungkapkan bahwa keistimewaan Bunda Siti bukan hanya pada kompetensinya sebagai penilik, tapi pada caranya mendekatkan diri dengan para guru.

"Bunda Siti itu orangnya rendah hati. Beliau tidak pernah merasa paling pintar, paling hebat. Beliau selalu bilang, 'Kita belajar bersama'. Itu yang membuat kami nyaman," ujar Bunda Elly.

Ia menambahkan, meskipun secara jabatan Bunda Siti adalah penilik — yang posisinya di atas para guru — ia tidak pernah memperlakukan mereka sebagai bawahan.

Halaman:

Tags

Terkini