nasional

Viral Ratusan Karyawan Alfamart Demo di Kantor Bupati Lombok Tengah, Diduga Cemas PHK usai Penutupan 25 Ritel

Jumat, 22 Mei 2026 | 21:40 WIB
Menyoroti aksi demonstrasi ratusan karyawan Alfamart di Kantor Bupati Lombok Tengah usai 25 gerai ritel modern itu resmi ditutup pemerintah daerah. (TikTok.com/@FreyaDitt) (Wic)

Sebelumnya, dalam beberapa kesempatan, korporasi menyatakan akan berusaha merelokasi karyawan yang terdampak ke gerai lain yang masih beroperasi. Namun, eksekusi di lapangan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Para karyawan mengeluhkan jarak tempuh yang jauh, biaya transportasi yang membengkak, dan sulitnya mencari tempat tinggal baru yang terjangkau. Beberapa di antaranya bahkan mengaku lebih memilih pesangon daripada direlokasi.

Pilkades dan Dampak Sosial

Kasus ini juga menarik perhatian karena terjadi di Lombok Tengah, sebuah daerah yang sedang giat-giatnya membangun UMKM dan pasar tradisional. Kebijakan penutupan ritel modern ini sejalan dengan program nasional untuk melindungi usaha kecil.

Namun, di sisi lain, Alfamart dan ritel modern lainnya telah menjadi sumber lapangan kerja bagi ratusan bahkan ribuan warga setempat. Penutupan massal berpotensi meningkatkan angka pengangguran di daerah tersebut.

Para karyawan yang demo tidak menolak Perda secara keseluruhan. Mereka hanya meminta agar pemerintah dan manajemen Alfamart duduk bersama mencari solusi terbaik. Jangan sampai mereka yang menjadi korban.

Mencari Jalan Tengah

Kasus penutupan 25 gerai Alfamart di Lombok Tengah dan aksi demo ratusan karyawannya adalah cerminan dilema kebijakan di banyak daerah. Di satu sisi, UMKM dan toko kelontong tradisional harus dilindungi. Di sisi lain, ritel modern juga telah menciptakan lapangan kerja yang tidak bisa diabaikan.

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, manajemen Alfamart, dan para karyawan harus duduk bersama mencari jalan tengah. Jangan sampai kebijakan yang baik justru berakhir dengan PHK massal dan penderitaan pekerja.

Publik menanti langkah selanjutnya dari Pemkab Lombok Tengah. Apakah akan ada pendampingan bagi karyawan yang terdampak? Ataukah mereka akan dibiarkan berjuang sendiri mencari nafkah di tengah himpitan ekonomi?

Satu hal yang pasti: suara karyawan yang terdengar dalam aksi demo itu tidak boleh diabaikan. "Makan, biaya kos, dan transportasi. Nggak cukup buat kami," adalah teriakan kepedihan yang membutuhkan jawaban nyata.

Halaman:

Tags

Terkini