Pada tanggal 17 Agustus 2025 batas final pengumpulan naskah dalam suasana yang sarat dengan kekhidmatan dan semangat kebersamaan, para penulis dari berbagai penjuru Indonesia karya yang sudah terkumpul dikurasi bertahap yang lolos akan bertemu secara virtual melalui Zoom Meeting Nasional HATIPENA.
Mereka bukan hanya sekadar berpartisipasi, tapi juga mencurahkan rasa hormat dan cinta mereka untuk mengenang Martinus Dwianto Setyawan, sang Maestro Sastra Anak. Saat Zoom Metting nanti menghadirkan pula Romo Sindhunata sebagai narasumber, membawakan perspektif filosofis dan spiritual yang menguatkan akar kebudayaan sastra anak.
Dari Kota Batu Hingga Aceh: Harmoni Dalam Kata
Yang menarik, daftar penulis yang ikut serta dalam proses kurasi berjumlah 75 orang! Mulai dari Kota Batu hingga Bussairi D Nyak Diwa di Aceh. Fenomena ini seperti peta kaleidoskop yang merefleksikan keberagaman budaya dan pemikiran di Indonesia sekaligus sebuah gambaran indah bagaimana sastra anak hadir sebagai pengikat hati lintas daerah.
Proses kurasi sendiri bukan hal mudah. Dari tujuh puluhan karya yang masuk, hanya yang terbaik lolos untuk diposting di media sosial dan diterbitkan di Cerah Budaya Internasional.
Ini bukan hanya soal seleksi, tetapi juga soal mempertahankan kualitas dan makna dalam setiap kata yang ditulis. Hal ini menunjukkan konsistensi dan profesionalisme komunitas literasi yang terlibat, seperti HP3N Kota Batu, Komunitas Puisi Esai Jatim, SATUPENA Jawa Timur, dan berbagai komunitas lain yang selalu menjaga standar kesusastraan untuk anak-anak.
Sastra Anak: Lebih dari Sekadar Bacaan
Mengapa kita harus peduli mengenang Martinus Dwianto Setyawan? Karena sastra anak adalah fondasi nilai moral dan budaya bangsa. Menurut pakar pendidikan Prof. Emília T. Lea (2018), bacaan anak yang kaya nilai akan membentuk karakter dan empati sejak dini, berkontribusi pada pembentukan generasi yang lebih bijak dan peduli. Kreativitas dalam sastra anak juga mendorong imajinasi dan membangun rasa cinta tanah air serta lintas budaya.